Sabtu, 14 November 2009

mengenal ideologi

Ahmad Ridwan 14 November jam 1:39
ini hanyalah uraian singkat tentang ideologi dan dasr utama penyebab munculnya ideologi kapitalisme dan sosialisme.
idiologi meyakini 3 tahap:
1. cara kita memahami dan menerima alam semesta,kemauan dan manusia
2. terdiri atas cara tertentu kita dal;am memahami dan mengepaluasi
segala benda dan gagasan yang membentuk lingkunga sosial dan
lingkungan mental kita
3. berupa penyodoran usulan-usulan,metode-metode,
pendekatan-pendekatan dan ide-ide yang akan kuita manfaatkan
untuk mengubah setatus quo yang tidak memuaskan kita.
Pada tingkatan ke 3 inilah ideologi harus mulai menyelenggarakan misinya untuk memberikanbimbingan melalui usulan-usulan,ujuan-tujuan,ide-ide yang di inginkan sertarencana-rebncana yang praktis,yang atas dasar itu konndisi yang sedang berlangsung pada suatu masyarakat mulai berubah dam berkembang.
jadi mabda' di sini adalah mampuka paham ini melakukan perubahab mendasar dengan alamn pikiran,ide-ide yang di sodorkan ideologi tersebut.




ideologi kapitalisme dan sosialisme muncul karena adanya sekularisme.sekularisme adalah pemisahan kehidupan dari agama,
sekularisme itu sendiri muncul akuibat luka lama yang di derita para ilmuwan pada masa.pada masa itu yang berkuasa adalah pihak gerejawan,dengan atas nama tuhan mereka membuat fatwa-fatwa/peraturan-peraturan yang sangat memberatkan bagi para ilmuwan.karena penindasan,pengekangan-pengekangan terhadap ilmu pengetahuan merkapun mulai berpikir dan dari sinilah muncul pemikiran bahwa peraturan-peraturan yang di utarakan oleh pihak gerejawan uturakan hanyalah alat untuk menindas mereka dan tidak masuk akal.
bagi para ilmuwan agama hanyalah penghambat dari perkembangan dan kebebasan sains,sehingga mereka pun menyatakan diri untuk memisahkan diri (kehidupan) dari agama....


ungkpan-ungkapan para ilmuwan pada masa itu

- " Abil kembali Tuhanmu itu,yang dengan atas namaNya kalian
memperbudak kami,serta membebani kami dengan kewajiban-
kewajiban dan menundukan kami di bawah kediktatoran serta
ketalakagulan yang tirani. keimanan terhadap Tuhanmu menuntut
kami menempuh kehidupan penyangkalan diri para petapa dan
pendeta,kami tolak ajaran mu. kami akan punya tuhan baru yang
memiliki segala sifat tuhan yang sama,tetapi tanpa gereja untuk
memperbudak kami,juga ia pun tidak memperberat kami dengan
kewajiban-kewajiban moral intelektual dan kebendaan apapun seperti
yang di buat tuhan mu itu."

- August Comptedi di paris(1778-1857) dengan positivismenya yang
mengungkapkan bahwa periode tehnik dan sejarah manusia
adalahperiode yang tertinggi sedangkan tingkat keagamaan adalah
tingkat yang terendah dan tingkat metafisik adalah tingkat yang kedua

- Sigmund Freud : " manusia melalu iera psikologi yang berbeda-beda
yakni mulai dariketahayulan,agama dan ilmu
pengetahuan."

- Somerset Mugham memberi kesimpulan atas seluruh sikap eropa terhadap agama yaitu suatu tuhan baru telah di temukan di eropa pada dewasa ini,ialah ilmu pengetahuan sedangkan Tuhan yang lama telah mereka campakkan.....

Senin, 03 Agustus 2009

Puncak Cinta

Rabu, 12 November 2008 20:51:46 - oleh : admin

Oleh Syarif Hade Masyah

Tidak dikatakan beriman salah seorang di antara kalian sampai Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya melebihi keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia.
- Nabi Muhammad Saw. -

Dalam menjalani aktivitas ibadah selama sehari-semalam, seorang muslim dituntut agar semua yang dilakukannya itu didasari dengan cinta, baik cinta kepada Allah, makhluk Allah yang lain, dirinya sendiri, dan lingkungannya. Saat salat, misalnya, bagaimana ibadah yang rutin harian ini bisa dilakukan dengan benar bila di hati orang yang melakukannya tidak terdapat cinta kepada Allah, ibadah yang dilakukannya, dan dirinya. Begitu juga dengan ibadah-ibadah yang lain.

Cinta yang tidak memperbarui dirinya setiap hari akan menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi perbudakan.
Cinta adalah satu-satunya kebebasan di atas dunia ini. Dia mengangkat jiwa begitu tinggi, yang semua hukum manusia dan kenyataan alam tak akan dapat merubah arahnya atau merintangi.
Cinta yang penuh nafsu adalah dahaga yang tak terobati.
Cinta berlalu di depan kita. Ia terbalut dalam kerendahan hati, tetapi kita lri darinya dalam ketakutan atau bersembunyi di dalam kegelapan. Atau, yang lain mengejarnya untuk berbuat jahat atas namanya.
Jangan kamu kira cinta dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah anak kecocokan jiwa. Jika itu tidak pernah ada, cinta tidak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia.
- Khalil Gibran -

Para ahli telah bersepakat bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah kewajiban mutlak (fardh ‘ain) bagi setiap individu. Ia juga menjadi puncak kita sebagai hamba. Allah Swt. berfirman, “Orang-orang yang beriman sangat kuat cinta mereka kepada Allah,” (QS Al-Baqarah [2]: 165). Dia juga berfirman, “Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah,” (QS Al-Maidah [5]: 54). Firman-Nya yang lain, “Katakanlah hai Muhammad! Jika kalian mencintai Allah, maka ikutlah aku, pasti Allah akan mencintai kalian,” (QS Ali Imran [3]: 31).
Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sehingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari keluarganya, hartanya, dan sekalian manusia,” (HR Al-Bukhari). Dalam sabdanya yang lain, Nabi juga menegaskan, “Salah seorang di antara kalian tidak akan merasakan manisnya keimanan, sampai saat ia mencintai orang lain yang hanya ia cintai atas dasar karena Allah, juga sampai saat ia dilemparkan ke dalam api neraka lebih dicintainya daripada ia harus kembali ke dalam kekafiran setelah Allah menyelamatkannya (dari kekafiran itu), dan sampai Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada yang lainnya,” (HR Al-Bukhari).

… apalah artinya hidup tanpa cinta …
- Schiller -

Cinta adalah kecenderungan hati pada suatu objek yang dicintai lantaran objek itu dirasakan indah dan menyenangkan bagi yang bersangkutan. Karena keindahan yang dirasa itu pula, orang yang mencintai bisa diperbudak, diperintah, diperhutangkan, dan ditawan oleh yang dicintainya. Bahkan, pada tahap tertentu dia tidak bisa lagi menetapkan satu keputusan apa pun serta tak dapat membedakan antara mana yang bermanfaat dan mana yang merugikan jika itu mengganggu kepentingan yang dicintainya.
Hakikat cinta tidak akan terwujud pada seseorang terhadap Allah kecuali setelah hatinya selamat dari berbagai kekeruhan jiwa. Bila cinta kepada Allah telah terpatri di dalam hati, maka cinta terhadap yang lain akan keluar dengan sendirinya, karena cinta mampu membakar segala sesuatu yang bukan termasuk yang dicinta. Konon, bagian luar cinta adalah kerelaan orang yang dicintai, sedangkan bagian dalamnya adalah memberikan hati kepada sang tercinta tanpa meninggalkan sedikit sisa pun untuk yang lain.

“Dawud, sampaikan pada penduduk bumi bahwa Aku mencintai hamba yang mencintai-Ku. Aku suka menemani hamba yang berteman dengan-Ku. Aku senang pada hamba yang merasa senang mengingat-Ku. Aku juga ingin selalu bersama dengan hamba yang ingin selalu bersama dengan-Ku. Aku akan memilih hamba yang menjadikan Aku sebagai pilihannya. Aku juga akan menuruti (permintaan) hamba yang selalu menuruti perintah-Ku. Setiap hamba yang mencintai-Ku dengan tulus, pasti Aku akan menerimanya untuk diri-Ku. Aku juga mencintainya dengan cinta yang tak pernah Aku berikan pada hamba-hamba-Ku yang lain. Siapa saja yang mencari-Ku dengan benar, maka ia akan menemukan-Ku. Sebaliknya siapa saja yang mencari selain-Ku, maka ia tidak akan mendapati-Ku.”
- Firman Allah pada Nabi Dawud dalam hadis qudsi-

Tanda mencintai Allah dapat terlihat dengan cara memutuskan hubungan dengan berbagai keinginan dunia dan akhirat. Bahkan, menurut Yahya bin Mu‘adz, kesabaran orang-orang yang mencintai Allah lebih dahsyat daripada kesabaran orang-orang yang berlaku zuhud. Ulama salaf ini juga heran bagaimana ada seseorang yang mengaku mencintai Allah, sementara dia tidak berusaha untuk menjauhi larangan-Nya. Baginya, siapa saja yang mengaku mencintai tanpa menjauhi syahwatnya, maka ia adalah pendusta. Siapa saja yang mengaku mencintai surga tanpa menginfakkan hartanya, maka ia juga pendusta.

Kamu masih berlaku maksiat kepada Tuhan?
Pada saat bersamaan kamu pun menampakkan cinta kepada-Nya?
Aku bersumpah … ini benar-benar aneh
Kalaulah memang cintamu benar, tentu kamu akan mematuhi perintah-Nya
Orang yang mencintai akan mematuhi semua
yang diperintahkan yang dicintainya
- syair Rabi’ah Al-Adawiyah -
Pertanyaannya sekarang, apakah kita sudah mencintai Allah? Sudah benarkah cinta kita? Seberapa besar kadar cinta kita itu? Untuk menjawabnya, lihat seberapa banyak ibadah kita dan seberapa banyak maksiat kita. Cinta butuh tanda, bukan kata-kata. Tanda inilah yang memposisikan cinta kita pada objek cinta kita. Semakin tulus tanda itu, semakin semerbak cinta kita.[ ]

Untuk bisa mencintai Allah, beberapa kiat berikut patut Anda catat dalam file harian Anda:
• Tempatkan cinta pada Allah di tempat Anda ingin dicintai-Nya.
• Merenungkan dan mensyukuri karunia-Nya membawa Anda mencintai-Nya melebihi segalanya.
• Setiap hela nafas Anda, ingatlah bahwa Anda ada karena Dia membuat Anda ada.
• Cintai Dia dengan menunaikan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
• Mencintai-Nya membuat Anda hidup dalam perasaan selalu aman, tentram, dan dilindungi.

Saya Ingin Meraih Puncak Cinta…
Bayangkan Anda berada di langit tingkat tujuh sendirian. Tujuan Anda ke langit ketujuh cuma satu: menjawab pertanyaan: “mengapa saya tidak bisa meraih puncak cinta?” Apa saja kira-kira yang Anda pikirkan sebagai jawaban atas pertanyaan itu? Catat semua pikiran Anda, termasuk kejadian yang tidak bernilai gara-gara Anda tidak bisa mencintai Allah. Mulailah menuliskan dari kejadian yang paling lama sampai yang paling baru. Bila banyak, pilih yang paling membekas dan berpengaruh.
1. ..………………………………………………………………………………………...…........................................................................................................................
2. .....................................................................................................................................…………………………………………………………………………………...
3. …..……………………………………………………………………………………...……………………………………………………………………………………….…
4. ………………………………………………………………………………………….………….............................................................................................................
5. ........................................................................................................................................................................................................................................................
Rekam peristiwa yang Anda catatkan di atas, jadikan sebagai tonggak untuk melangkah ke depan. Sekarang, catatkan strategi Anda untuk mencintai Allah pada hari-hari berikutnya. Buka mata hati dan dengarkan suaranya, baru tuliskan di sini:
1. ..………………………………………………………………………………………...…........................................................................................................................
2. .....................................................................................................................................…………………………………………………………………………………...
3. …..……………………………………………………………………………………...……………………………………………………………………………………….…
4. ………………………………………………………………………………………….………….............................................................................................................
5. ......................................................................................................................................................

Jumat, 31 Juli 2009

Memakai Jilbab Hukumnya Wajib. Mengapa Dipersoalkan?

Jilbab Hukumnya Wajib. Mengapa Dipersoalkan?

[Al-Islam 430] Sangat pilu! Itulah perasaan seorang gadis Muslimah yang bernama Winie Dwi Mandella, petugas medis di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat. Betapa tidak, di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim ini ia mendapatkan perlakuan yang sangat tidak adil; dipecat dari rumah sakit tempat kerjanya hanya karena mengenakan jilbab/kerudung.

Kisah malang yang menimpa Winie semakin menambah panjang kasus-kasus serupa di tempat lain dan institusi yang berbeda. Puluhan tahun silam, Januari 1983, misalnya, SMAN 68 Jakarta Pusat pernah melarang salah seorang siswinya mengikuti pelajaran karena mengenakan jilbab. Ia dianggap tidak mematuhi aturan seragam sekolah. Hal serupa terjadi di SMAN 33 Jakarta.

Masih ingat dengan kasus pemecatan Hadis dan Dewi? Mereka adalah dua mahasiswi Akper Muhammadiyah Banjarmasin yang dikeluarkan lantaran tidak menaati aturan berpakaian yang ditetapkan oleh institusi tempatnya belajar. Keduanya dikeluarkan hanya karena mengenakan jilbab yang mereka yakini lebih sempurna. Ini terjadi pada tahun 2003.

Setahun lalu (2007), di Jawa Timur, juga ada larangan berjilbab bagi peserta seleksi calon anggota Paskibraka di Kabupaten Kediri. Di Jakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) Jakarta memperketat aturan berjilbab bagi para mahasiswinya. Di Bandung, juga terjadi pelarangan jilbab bagi perawat di Rumah Sakit Kebonjati.

Sebetulnya, masih banyak kasus serupa di banyak tempat lain di Indonesia, yang mungkin sebagiannya tidak terungkap oleh media secara nasional. Jelas, ini ironis sekali. Pasalnya, Indonesia bukan seperti negara-negara Barat yang jelas-jelas kufur. Indonesia mengklaim bukan negara sekular. Bahkan tertuang dalam UUD 1945, pasal 29: Negara memberikan jaminan kebebasan bagi warga negaranya untuk menjalankan kehidupan beragamanya.

Muslimah di belahan dunia lain juga tidak kalah pilunya. Mereka mendapatkan perlakuan tidak adil dan biadab. Turki, misalnya, yang mayoritas penduduknya Muslim dan pernah menjadi pusat pemerintahan Islam selama berabad-abad lamanya, melarang mahasiswanya untuk mengenakan jilbab ke kampus. Demi mempertahankan jilbabnya, banyak gadis berjilbab yang akhirnya putus sekolah dan lebih memilih tinggal di rumah daripada pergi ke kampus dengan rambut terurai.

Di Jerman, wilayah larangan berjilbab semakin meluas. Dari 16 negara bagian, 8 negara bagian telah memberlakukan larangan tersebut. Dikatakan, larangan berjilbab diadakan untuk menghindari seseorang dari pengaruh. Tidak jelas pengaruh apa yang dimaksud.

Di Prancis, Presiden Jacques Chirac telah memberlakukan undang-undang yang juga melarang penggunaan jilbab bagi Muslimah.

Di Belanda, Maret 2006, Geert Wilders yang merupakan salah seorang anggota parlemen sayap kanan menggelindingkan bola liar dengan mengusulkan larangan mengenakan burqa (termasuk juga jilbab). Ia mengatakan bahwa burqa akan menjadi musuh kaum perempuan. Apa yang dilontarkan oleh Wilders berbuntut pada munculnya peraturan yang melarang pemakaian burqa secara nasional di seluruh wilayah Belanda pada Desember 2006.

Di Inggris, November 2004, jilbab juga kembali dilecehkan. Saat ini dilontarkan oleh institusi tertinggi kedua dalam Keuskupan Inggris. Pernyataan itu berasal dari Uskup York, John Sentanu, dalam sebuah wawancara dengan surat kabar British Daily Mail. Ia menyatakan bahwa jilbab tidak sesuai dengan norma-norma kesopanan.

Larangan berjilbab juga diberlakukan di Swedia dan Belgia.

Di Spanyol jilbab dituduh sebagai simbol penindasan terhadap kaum perempuan. Padahal Spanyol telah mengakui Islam berdasarkan undang-undang kebebasan beragamanya yang disahkan pada Juli 1967.

Di Nigeria jilbab di sekolah serta penggunaan celana panjang dan peci untuk laki-laki juga dilarang.

Bahkan di negara Timur Tengah seperti Tunisia pun terjadi hal yang sama. Saat kepemimpinan Presiden Tunisia Habib Bouruiba, tahun 1981 Tunisia meratifikasi UU nomor 108 yang melarang wanita Muslimah di Tunisia mengenakan jilbab di lembaga-lembaga pemerintahan. Puncaknya, Pemerintah Tunisia bahkanmengharamkanwanita berjilbabmasukdan dirawat di rumah sakit negara. Lebihbiadablagi, pemerintah telah melarang ibu-ibu hamil melahirkan anaknya di rumah sakit negara lantaran berjilbab. Bahkan saking kalapnya dalam aksi pemberangusan jilbab, pada September 2006, pemerintah Tunisia menggelar sebuah operasi pengamanan dengan mengobrak-abrik berbagai toko yang di dalamnya menjual boneka berjilbab, ‘Fulla’.

Inilah potret Muslimah yang selalu menjadi korban pertama dan utama dalam setiap penerapan sekularisme radikal. Mereka juga sekaligus korban dari apa yang disebut denganIslamophobia’ (ketakutan dan kebencian terhadap Islam).

Pejuang HAM Diam, Penguasa Tak Peduli

Dalam banyak kasus larangan jilbab, berbagai LSM/kelompok-kelompok pejuang HAM lebih banyak diam. Kemana pula para pegiat isu gender? Bukankah para Muslimah juga perempuan yang harus diperjuangkan hak publiknya? Mungkin karena kasus larangan jilbab justru menguntungkan mereka. Pasalnya, selama ini mereka bekerja seolah untuk sebuahproyek’: menyudutkan Islam dan kaum Muslim. Saat Islam dan kaum Muslim sedang tersudut, mereka diam. Ketika ada peluang untuk menyudutkan Islam dan kaum Muslim, dengan cepat mereka bereaksi. Contohnya dalam kasus poligami Aa Gym beberapa waktu lalu atau pernikahan Syekh Puji-Ulfa baru-baru ini.

Di sisi lain, penguasa pun seolah tidak peduli terhadap kasus-kasus sensitif yang menimpa umat Islam, termasuk kaum Muslimah, khususnya dalam kasus larangan jilbab. Padahal, bandingkan dengan dulu saat umat Islam berada dalam naungan Kekhilafahan Islam dan penerapan syariah Islam, serta dipimpin oleh para khalifah yang adil dan amanah. Pada masa Khalifah al-Mu’tashim Billah, misalnya, pernah seorang Muslimah berteriak, “Wahai al-Mu’tasim! Di manakah engkau?!” Muslimah itu ditawan oleh Kerajaan Romawi di Malta. Di sana ia dilecehkan kehormatannya sekaligus diperlakukan dengan sangat buruk. Meski ia sangat jauh di Malta, beritanya telah tersebar dari orang ke orang hingga sampai juga kepada Khalifah.

Dengan cepat Khalifah al-Mu’tashim bereaksi. Tidak tanggung-tanggung. Ia lalu mengumandangankan jihad terhadap Kerajaan Romawi. Secepat kilat, Khalifah al-Mu’tashim berikut puluhan ribu bala-tentara kaum Muslim bergerak menuju kota Ammuriyah di Romawi, untuk kemudian menaklukan Kerajaan Romawi saat itu juga. Demikianlah, hanya demi melindungi seorang Muslimah, Khalifah tak segan-segan mengumandangkan perang jihad melawan siapa saja yang melecehkan Islam dan kaum Muslim.

Bagaimana dengan nasib ribuanbukan hanya seorangMuslimah pada hari ini yang bernasib buruk? Mereka bukan saja dilarang berjilbab, bahkan sebagiannya dilecehkan kehormatannya dan diperkosa oleh orang-orang kafir, sebagaimana telah banyak terjadi di Palestina, Irak dan Afganistan. Tak ada satu pun penguasa Muslim yang tersentuh kemudian tergerak untuk melindungi mereka.

Islamophobia Vs Keagungan Islam

Berbagai kasus pelarangan jilbab di Indonesia maupun di luar negeri, khususnya di negara-negara Barat, boleh dikatakan merupakan wujud dari masih bercokolnya sikap Islamophobia (ketakutan dan kebencian terhadap Islam), baik di kalangan umat Islam sendiri maupun kalangan non-Muslim.

Tentu aneh jika ada kalangan Islam yang malah phobi (takut) terhadap Islam. Adanya ketakutan dan kebencian kaum kafir terhadap Islam juga tak kalah anehnya. Pasalnya, sepanjang sejarah, saat umat Islam menjadi pemimpin dan syariah Islam diterapkan, Islam adalah agama yang senantiasa menjamin keamanan, keselamatan dan kebebasan kaum minoritas non-Muslim dalam beribadah sesuai dengan keyakinan mereka. Ini sudah berlaku sejak masa Rasulullah saw. dan tetap dilaksanakan oleh para khalifah sepeninggal Beliau. Kebijakan yang begitu ramah terhadap non-Muslim ini terus berlangsung selama berabad-abad lamanya sepanjang sejarah Kekhilafahan Islam.

Karen Amstrong dalam bukunya, Holy War, menggambarkan saat-saat penyerahan kunci Baitul Maqdis kepada Khalifah Umar bin al-Khathathab kira-kira sebagai berikut, “Pada tahun 637 M, Umar bin Khaththab memasuki Yerusalem dengan dikawal oleh Uskup Yunani Sofronius. Sang Khalifah meminta agar ia segara dibawa ke Haram asy-Syarif dan di sana ia berlutut berdoa di tempat Nabi Muhammad saw. melakukan perjalanan malamnya. Sang Uskup memandang Umar penuh dengan ketakutan. Ia berpikir, ini adalah hari penaklukan yang akan dipenuhi oleh kengerian yang pernah diramalkan oleh Nabi Daniel. Pastilah, Umar adalah sang Anti Kristus yang akan melakukan pembantaian dan menandai datangnya Hari Kiamat. Namun, kekhawatiran Sofronius sama sekali tidak terbukti.”

Setelah itu, penduduk Palestina hidup damai dan tenteram; tidak ada permusuhan dan pertikaian meskipun mereka menganut tiga agama besar yang berbeda: Islam, Kristen, dan Yahudi.

Apa yang dilakukan Khalifah Umar ra. jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh tentara Salib pada tahun 1099 M. Ketika mereka berhasil menaklukkan Palestina, kengerian, teror, dan pembantaian disebarkan hampir ke seluruh kota. Selama dua hari setelah penaklukkan, 40.000 kaum Muslim dibantai. Pasukan Salib berjalan di jalan-jalan Palestina dengan menyeberangi lautan darah. Keadilan, persatuan, dan perdamaian tiga penganut agama besar yang diciptakan sejak tahun 1837 oleh Khalifah Umar ra. hancur berkeping-keping.

Meskipun demikian, ketika Shalahuddin al-Ayyubi berhasil membebaskan Kota al-Quds pada tahun 1187 M, beliau tidak melakukan balas dendam dan kebiadaban yang serupa. Karen Armstrong menggambarkan penaklukan kedua kalinya atas Yerusalem ini sebagai berikut, “Pada tanggal 2 Oktober 1187, Salahuddin dan tentaranya memasuki Yerusalem sebagai penakluk dan selama 800 tahun berikutnya Yerusalem tetap menjadi kota Muslim. Salahuddin menepati janjinya. Ia menaklukkan kota tersebut menurut ajaran Islam yang murni dan paling tinggi. Ia tidak berdendam untuk membalas pembantaian tahun 1099…”

Perlakuan Kekhilafahan terakhir, Khilafahan Utsmaniyah, terhadap kaum non-Muslim dilukiskan sejarahwan Inggris, Arnold J. Toynbee, dalam bukunya, Preaching of Islam, “Perlakuan terhadap warga Kristen oleh pemerintahan Ottoman—selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunanitelah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa…”

Demikianlah, dengan secuil fakta sejarah di atas, jelas tidak seharusnya orang-orang non-Muslim, apalagi kaum Muslim, tetap mengidap Islamophobia. Sebab, Islam datang memang untuk menebarkan rahmat bagi seluruh umat manusia. Mahabenar Allah SWT yang berfirman:

Tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluuruh alam (QS. Al-Anbiya [21]: 107).[]

Syariat Islam Mengenai Cinta & Menikah Tanpa Cinta


Syariat Islam Mengenai Cinta & Menikah Tanpa Cinta

Februari 12, 2007

MediaMuslim.InfoCinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan yang manusiawi yang bersumber dari fitrah yang diciptakan Alloh Subhanallohu wa Ta’ala di dalam jiwa manusia, yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya. Sebagaimana Firman Alloh Subhanallohu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendir , supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya , dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang .Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. Ar Rum: 21) Cinta pada dasarnya adalah bukanlah sesuatu yang kotor, karena kekotoran dan kesucian tergantung dari bingkainya. Ada bingkai yang suci dan halal dan ada bingkai yang kotor dan haram. Cinta mengandung segala makna kasih sayang, keharmonisan, penghargaan dan kerinduan, disamping mengandung persiapan untuk menempuh kehiduapan dikala suka dan duka, lapang dan sempit.

Cinta Adalah Fitrah Yang Suci
Cinta bukanlah hanya sebuah ketertarikan secara fisik saja. Ketertarikan secara fisik hanyalah permulaan cinta bukan puncaknya.Dan sudah fitrah manusia untuk menyukai keindahan.Tapi disamping keindahan bentuk dan rupa harus disertai keindahan kepribadian dengan akhlak yang baik.

Islam adalah agama fitrah karena itulah islam tidaklah membelenggu perasaan manusia.Islam tidaklah mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri seorang manusia .Akan tetapi islam mengajarkan pada manusia untuk menjaga perasaan cinta itu dijaga , dirawat dan dilindungi dari segala kehinaan dan apa saja yang mengotorinya.

Islam mebersihkan dan mengarahkan perasaan cinta dan mengajarkan bahwa sebelum dilaksanakan akad nikah harus bersih dari persentuhan yang haram.

Menikah Tanpa Cinta
Adakalanya sebuah pernikahan terjadi tanpa dilandasi oleh cinta. Mereka berpendapat bahwa cinta itu bisa muncul setelah pernikahan. Islam memandang bahwa faktor ketertarikan merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan begitu saja.Islam melarang seorang wali menikahkan seorang gadis tanpa persetujuannya dan menghalanginya untuk memilih lelaki yang disukainya seperti yang termuat dalam Al Qur’an dan Al Hadist

Firman Alloh Subhanallohu wa Ta’ala, yang artinya: “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin dengan bakal suaminya” (QS. Al Baqarah: 232)

“Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu , bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam , lalu ia memberitahukan bahwa ayahnya telah menikahkannya padahal ia tidak suka , lalu Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam memberikan hak kepadanya untuk memilih” (HR Abu Daud)

Karena yang menjalani sebuah pernikahan adalah kedua pasangan itu bukanlah wali mereka.

Selain itu seorang yang hendak menikah hendaknyalah melihat dahulu calon pasangannya seperti termuat dalam hadist: “Apabila salah seorang dari kamu meminang seorang wanita maka tidaklah dosa atasnya untuk melihatnya, jika melihatnya itu untuk meminang, meskipun wanita itu tidak melihatnya” (HR. Imam Ahmad)

Memang benar dalam beberapa kasus, pasangan yang menikah tanpa didasari cinta bisa mempertahankan pernikahannya. Tapi apakah hal ini selalu terjadi, bagaimana bila yang terjadi adalah sebuah neraka pernikahan, kedua pasangan saling membenci dan saling mencaci maki satu sama lain. Sebuah pernikahan dalam islam diharapkan dapat memayungi pasangan itu untuk menikmati kehidupan yang penuh cinta dan kasih sayang dengan mengikat diri dalam sebuah perjanjian suci yang diberikan Alloh Subhanallohu wa Ta’ala. Karena itulah rasa cinta dan kasih sayang ini sudah sepantasnya merupakan hal yang harus diperhatikan sebelum kedua pasangan mengikat diri dalam pernikahan. Karena inilah salah satu kunci kebahagian yang hakiki dalam mensikapi problematika rumah tangga nantinya.

Selasa, 07 Juli 2009

open mind

Go Home

Sunday, 26 April 2009 02:48

E-mailPrintPDF



Seorang Bapak mengajak anaknya merancang sebuah rumah. Ketika sang anak bertanya, “rumah siapa yang akan mereka gambar kali ini?”, bapak menjawab,”Rumah kita, dong!!”
Berbekal pinsil kayu, tangan mungil itu ikut menyempurnakan goresan-goresan bapak.
Beberapa saat kemudian jadilah sebuah rumah nan cantik. Dan Ibu yang melintas pun mengomentari karya bapak-anak ini. Sebuah komentar yang tidak pernah diduga! (bisa jadi juga ini ‘asal ceplos’ dari sang Ibu).
“Wah..cantiknya ! emm, tapi ini apa?” usik Ibu sambil menunjuk sisi kanan rumah.
“garasi,bu” jawab sang anak dengan berseri.
“Duh, gaya banget! buat rumah ada garasinya! lha wong mobil aja gak punya!”
Maka, sesuai syair dari ‘Dorothy’, dimana seorang anak tumbuh seperti apa yang diajarkan orang tuanya, sang anak yang saat itu kira-kira kelas I SD menjadi ciut dan berkata dalam hati, “Ibu benar. Terlalu muluk memimpikan rumah seperti itu”. Dan sketsa itupun ia jadikan sebagai mimpi di pojok kamar rumah dinas seorang guru SD.


Beruntung. Sang Bapak jagoan! ia tidak membiarkan buah hatinya terus ciut dan mengecil. 4 tahun kemudian, ia memboyong keluarganya ke sebuah rumah yang rupanya ia rintis sejak lama. Rumah yang ada di dalam sketsa kini berdiri tegak di hadapan sang anak. Pada sisi kanan rumah, sang anak menemukan bangunan beratap seng yang disangga oleh tiang-tiang kayu. Itu pasti garasi! Garasi Tanpa pintu, tanpa dinding, dan tanpa mobil. Tak mengapa!! Karena, dengan begitu sang anak tau, Bapaknya sedang mengajarkan dan menunjukkan padanya bahwa setiap manusia butuh MIMPI dan CITA-CITA. Walau....Toh tidak semua mimpi dan cita-cita harus berakhir dengan sempurna. Seperti ‘bakal calon’ garasi ini! Yang pasti, impian mereka untuk punya garasi sudah terwujud. Dan peluang untuk merenovasi garasi itu makin besar terbentang. Tunggu saja saatnya.
Rumah mungil itu diberi nama ‘Gubug Bougenville’. Kata sang Bapak, bunga bougenville itu gak rewel untuk tumbuh di lahan mana pun ia berada, bahkan di dalam POT sekalipun. Bahkan di musim kemarau, tanpa harus rajin disirami ia tetap mau berbunga. Begitu pun harapan Bapak pada setiap anggota penghuni rumah tersebut, kelak.
Sejak ‘saat itu’, saya merasa sang anak tidak akan sanggup untuk pindah rumah. Karena bukan saja berarti harus merubah alamat, namun juga berarti merubah tempat: Pulang !
Makanya, izinkan hina dina ini untuk berduka kepada rekan-rekan persobatan yang ‘masih’ paling anti buat pulang ke rumah! Yang lebih rela nge-kost, padahal rumahnya nggak jauh untuk dijangkau bolak-balik ke sekolah. Alasannya mungkin bermacam-macam: ada yang nggak cocok sama saudaranya , pusing sama rumah yang penuh dengan saudara yang numpang hidup, sebel dengan Bokap yang –rese’- dan mau tau aja kegiatan kita, sampe ke alasan-alasan nakal ‘cari tempat aman’ buat aktivitas rokok-minum-dan ‘main’. Biasanya, kalau ada sosok yang sudah mulai unjuk bicara, mereka (group yang ‘menjauhkan diri dari rumah tadi) mayoritas bales omongan dengan kalimat, “loe sih belom ngerasain yang kayak gue! Kondisi rumah kita beda! Bokap lo gak bikin suasana rumah panas! Nyokap loe kagak reseh!”. Atau, ada juga jawaban yang paling kaum cewek benci, “Loe sih beda! Loe itu perempuan!!” (wacks! Sial banget posisi tuh cewek saat itu!).
Sampai akhirnya pernah ada juga orang yang pas lagi muncak-muncaknya marah, teriak begini, ”Gue gak butuh rumah..!!!” (suaranya pas banget masuk gendang telinga saya. Pekak banget –saat itu-. Nih orang kenapa ya..? pikir saya).
Setelah mengumpulkan keberanian, saya jawab aja kalem,”Ya udah. Kalau begitu abang nggak usah pulang aja. Karena tanpa rumah, abang gak bisa pulang kemana-mana. Tapi masalahnya, abang akan tetap butuh keluarga! Dengan atau tidak adanya Rumah.” (entah saya pernah dapat penggalan kata itu dari mana! Saya lupa! )
Padahal, jujur! Saya merasa mereka sendiri gak tau persis keadaan rumah satu sama lain. Sama seperti saya, gak tau kondisi kamu atau sebaliknya dengan mendalam. Yang selama ini tampak oleh mata, bisa jadi pas kondisi rumah emang lagi adem ayem. Soal menutupi konflik, di era ‘pencetakan bintang’ seperti sekarang, hal yang mudah untuk melahirkan tokoh yang jago acting! Dan kalaupun Alasan saya beracting bukan karena malu ketahuan kedok, tapi karena saya KAPOK.
Karena teman-teman sekitar saat itu benar-benar bukan orang yang tepat untuk berbagi solusi yang benar. Sekali lagi, SOLUSI yang BENAR.
Saya gak akan pernah lupa pas salah satu rekan kami berbagi soal penatnya keadaan rumah doi, karena ortunya bertengkar hebat dan bahkan mengarah pada perceraian. Mau tau solusi yang ditawarkan mayoritas teman saya saat itu? Ada yang mengarahkan doi buat nge-kost saja. Dan yang paling gila adalah malah nawarin ‘pelarian’ yang gak laen adalah Dariugs!
Maka, saya gak heran kalau teman saya saat itu makin rusak dari hari ke minggu. Baik dari penampilan, studi, bahkan pergaulan. Dan itu toh gak mencegah ortunya buat tetap bercerai?! Kalo udah gitu, salah siapa?! salah GUE..?!(jd mirip dialog AADC).
Maka, salahkah bila hina dina memutuskan untuk berbeda?! Bagi saya, saya hanyalah seorang anak goblok yang gak bertindak apapun pas ortu saya memutuskan untuk bercerai! Apalagi SMU adalah ukuran kalau saya dkk saat itu sudah bisa mulai ambil peranan secara dewasa! Berlebihan sekalikah bila saya berkata dewasa? Emang siapa yang mulai bicara kalau kegiatan ’pacaran’ yang rame di kalangan pelajar adalah tanda-tanda ‘kedewasaan? Jawab!!
Dampak dari perceraian, kita-kita pasti sudah tahu. Taruhlah kita gak akan problem banget pas OrTu pisah (karena kita sudah bisa menghadapinya dengan bijak. Faktor “U” (Umur), gitu lah!). Tapi apa adik-adik atau anggota keluarga kita bisa se-kuat kita menghadapi perpisahan itu?
Saat itu, saya cuma gak mau egois. Saya punya adik-adik dan itu berarti saya harus bertanggungjawab sebagai seorang kakak. Saya gak akan RELA menenggelamkan persoalan di lautan alkohol dan butiran-butiran obat, karena itu berarti saya Egois! Parahnya lagi, itu bukti kalau saya juga ‘sakit’! No Way !! Saya gak akan membiarkan tawa-tawa sumbang membahana dan memperkuat justment yang ada!! Sambil berkata,”lihat tuh anaknya jadi korban!!” [ NO WAY !!!]
Kelak, saya ingin diri ini berhak untuk berlari di tempat yang indah. Cuma, memang gak semua dari siapapun yang tengah masuk dalam situasi tersebut mau menanggalkan egonya. Makhluk Alloh yang selama ini berada di sekitarku, lebih bangga bila dapat mengatasi sendiri kesulitannya. Kalaupun ada ‘curhat’, itu dilakukannya dengan tersamar.
Memang, gak semua orang berani untuk memposisikan dirinya sebagai bagian dari anggota keluarga. Dan gak semua orang mau mengakui kalau mereka sebenarnya membutuhkan keluarga ini sebagai landasan mereka kelak untuk melesat. Ngaku nggak, kalau terkadang... kita ini butuh, tapi terkadang sok jual mahal dan ke-gedean gengsi?! Karena, yang saya setujui, ‘setiap pribadi itu menjadi bagian dari keluarga. Dan setiap bagian itu berharga (itu dari dosen saya di matakuliahnya).
Saat ini saya gak tau banyak perkembangan rekan-rekan terkasih tersebut. Semoga saja kalian sudah menemukan rumah tempat pulang, sobat. Atau, minimal sedang dalam perjalanan pulang. Sama seperti saya dan beberapa lainya yang kebetulan lebih awal menemukan tempat pulang.
Akhirnya , tulisan ini bukan untuk menggurui ataupun justment bagi siapa saja yang kondisinya ‘mirip’, atau bahkan dibaca oleh rekan-rekan yang ngerasa saya tulis di sini (oii, pha kabar,ABang2 gantenx?! Lama tak jumpa!!).
Saya hanya ingin mengatakan bahwa harus ada PERAN yang kita ambil. Mari Buang jauh-jauh kondisi kacaunya keluarga sebagai alasan bagi kita untuk terseret menjadi kacau juga. Depresi sosial sudah menyebar. Nambah daftar pasien cuma buang kesempatan dan umur sia-sia! Mendingan kite nyang jadi Dokternye! Iye kagak?!
Seperti dalam sebuah komik, bunga-bunga itu indah karena berbeda. Mawar, melati.. kelopaknya, wanginya.. hmmm, Beda! Begitu juga dengan manusia. Kita.
Hanya saja, kalau memang ngerasa gak ‘mekar-mekar’ & gak ‘Wangi-wangi’,.. Nyadar euy! Mumpung belum telat.
Udah ah, semakin saya berkoar, saya takut jadi banyak yang sakit hati, stress & depresi. Padahal, yang saya ingin kobarkan, hanyalah sebuah semangat juang di tahap ‘kematangan’ yang berbeda.
Ada baiknya saya akhiri, Hep e nais days ! (K.Diadjeng)